Saat itu, Mira baru saja masuk kuliah dan Dewi masih kelas satu SMU. Sejak itu, hari-hariku kuisi dengan kerja kencang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. ”Bram…” Mama menunggu jawabanku. ”Iya, iya, Insya Allah. Ma…” Mama benar. Tidak ada lagi alasan untukku untuk menunda rencana berkeluarga. Dewi telah menikah tiga bulan yang lalu. Amanah Papa telah kutunaikan. Persoalannya ialah, siapa wanita yang akan kunikahi? Saya tidak pernah patrikn. Saya tsayat terjebak melsayakan perbuatan yang tidak baik. Alternatif calon juga tidak ada. Jadi, siapa yang akan kulamar? Sebenarnya, saya mampu minta bantuan kepada orang lain. Mama, kerabat atau kolegsaya dengan senang hati pasti akan berusaha membantu. Tetapi, sebelum meminta bantuan orang lain, saya akan sholat istikharah dulu. Saya hendak melangkah dengan tenang. Dan terjadilah keajaiban itu. Setelah dua kali sholat, tiba-tiba Laras muncul dalam mimpiku. Begitu jelas. Laras?
Saya tercengang. Laras ialah kawan kuliahku di Pasca Sarjana. Sudah hampir dua semester ini saya kuliah lagi di salah satu PT terkenal di Jakarta. Ia sangat cerdas dan rasional. Ia juga kerap membantaiku dalam diskusi-diskusi di ruang kuliah. ”Menurut saya, teori yang saudara gunakan untuk menganalisa persoalan ini tidak tepat. Terlalu dipaksakan…” Komentar Laras ketika membantaiku seminggu sebelumnya terngiang kembali di telingsaya. Komentar yang diucapkannya dengan santun itu selalu membuatku gelagapan. Komentarnya selalu logis, ilmiah dan sulit dibantah. Sudah berkali-kali saya dan kawan-kawan ’dibantainya’. Ya, mengapa harus Laras? Perempuan yang kepribadiannya begitu keras dan tenang, sampai tidak ada lelaki yang berani menjalin hubungan lebih dekat dengannya. Sebenarnya Laras baik, sangat baik. Ia tidak pernah segan membantu orang lain atau berkata kasar. Tetapi saya benar-benar sungkan menghadapinya. Apalagi berimajinasi harus melamarnya. Mimpi itu juga menyisakan pertanyaan buatku.
Benarkah ini isyarat Allah? Atau, saya diam-diam menyukainya sehingga sosok Laras muncul dalam mimpiku. Saya bimbang. “Bagaimana, Bram?” Mama meminta kejelasan dariku dua minggu kemudian. Saya hanya mampu tersenyum kecut. “Belum ada calon? Apa perlu Mama bantu?” Mama menatapku. Saya tergagap. “Tidak perlu, Ma. Saya akan mencoba mencari sendiri saja.” Mama tersenyum. Saya menarik napas lega. Untuk sementara saya berhasil menenangkan Mama. Malamnya, saya mencoba menenangkan diri dan mulai sholat istikharah lagi. Kali ini, saya mencoba lebih tenang dan pasrah kepada Allah. Saya mencoba melepaskan segala kebimbangan dan sungguh-sungguh meminta keputusan-Nya. Saya berjalan bersisian dengan Laras. Begitu dekat. Laras tersenyum. Manis dan sangat lembut. Mimpi itu lagi! Saya terbangun menjelang pukul tiga dinihari. Sebentuk perasaan aneh masih sempat kurasakan ketika saya terbangun. Indah! Apakah Laras memang jodohku? Pertanyaan itu kembali bermain dalam benakku. Saya mencoba menelisik kembali kejernihan hatiku. Benarkah saya memang tidak terobsesi kepada Laras? Saya mengurai kembali semua interaksiku dengan Laras. Sejak pertemuan pertama. ”Saya Laras!” Ia memperkenalkan diri dengan lugas, tanpa senyum. Juga tanpa jabat tangan. Saya hanya mengangguk. ”Bram.” Saya menyebutkan namsaya. Dhendak, tapi cukup sopan. Itu kesan pertamsaya. Ia tidak genit atau cerewet seperti satu dua orang perempuan yang pernah kukenal. Seingatku, tidak pernah ada momen istimewa antara saya dengan Laras. Benar-benar hanya hubungan antar kawan kuliah. Saya malah lebih akrab dengan Susi, kawan kuliahku yang lain. Saya juga tidak pernah merasa ’aneh’ ketika berinteraksi atau berpapasan dengannya. Bahkan ketika saya nyaris bertabrakan dengannya. Semua wajar dan biasa saja. So? Saya masih tetap ragu. Kuputuskan untuk menunggu sampai benar-benar merasa yakin. Dan selama masa menunggu itu, terjadi suatu peristiwa yang semakin membuatku merasa ciut menghadapi Laras. ”Maaf…” Laras mengacungkan tangan. Semua mata tertuju kepadanya. Saya menahan napas. Apa yang akan dikatakannya kali ini. Saya berdebar-debar menunggu komentarnya atas makalah yang kupresentasikan. ”Menurut saya, makalah ini tidak memenuhi kualifikasi ilmiah.” kata-kata itu diucapkannya dengan nada meminta maaf. Saya terkejut. Makalah ini memang kusiapkan dengan terburu-buru. Pekerjaanku di kantor sedang bertumpuk. Beberapa kawan menggumam. Dosenku tersenyum kecil. Ia telah biasa menghadapi Laras. Saya tersinggung dan merasa dipermalukan. Ini ialah komentar paling tajam yang pernah dilontarkan Laras kepadsaya. Walaupun kemudian saya mampu menerimanya ketika ia dengan argumentatif menjelaskan kelemahan makalahku. Kejadian itu membuatku semakin ragu. Entahlah, barangkali saya merasa tidak siap mempunyai istri yang dapat membantaiku setiap ketika. Atau mempertanyakan kebijakanku sebagai suami. Saya memang tidak terbiasa dipertanyakan seperti itu.
Kedudukanku sebagai anak tertua dan tulang punggung keluarga membuat adik-adikku dan Mama memperlsayakanku setrik istimewa. Apa kata Mas saja, terserah Mas… Selalu itu yang kudengar dari mereka. Kalaupun mereka tidak sependapat denganku, tidak pernah ada yang setrik lugas menyatakan ketidaksetujuannya. Begitu juga dengan bawahanku di kantor. Saya semakin tidak berani menghadapinya setelah peristiwa itu. Jadi, untuk sementara saya terpaksa menenangkan diri lagi. Tapi desakan dari Mama tiga hari yang lalu membuatku terpaksa bertindak. ”Bram, mungkin telah waktunya Mama membantu. Sudah sebulan, dan kamu belum juga bertindak apa-apa. Mama telah semakin tua, Bram. Belakangan ini, Mama semakin sering sakit. Mama tidak hendak terjadi sesuatu pada diri Mama sebelum kamu menikah…” Mama berkata setengah memohon. Saya menunduk. ”Bram…” Saya menatap Mama. Mama menarik napas panjang. Saya menunggu Mama bitrik. ”Kalau tiga hari lagi tidak ada keputusan, Mama akan mencari calon untuk kamu. Kamu kenal Nita? Anak Bu Retno? Nita baik, lho… Dia juga cantik dan terpelajar…” Bla…bla…bla. Hampir lima belas menit Mama bercerita tentang Nita. Saya kenal Nita. Nita memang baik, tetapi bukan itu persoalannya. Saya hendak menuntaskan masalah Laras dulu. Tidak ada jalan lain. Akhirnya, kumantapkan hatiku untuk bitrik dengan Laras. Tapi, bagaimana triknya? Lewat telepon? Nomer telepon Laras saja saya tidak punya. Atau, mengajaknya bitrik setrik langsung? Bagaimana kalau ia menolak dan membantaiku seperti ia membantai makalahku? Akhirnya, kuputuskan untuk meminta nomer telepon Laras dari Susi. Saya berhasil menghindar dari pertanyaan Susi dengan memberinya sebentuk senyuman aneh. Untungnya, ia tidak bertanya lebih jauh. Malamnya, saya mencoba menelpon Laras. Saya menggenggam Hp-ku dengan perasaan tidak karuan. Dengan tangan gemetar saya menelponnya. ”Halo, Assalamu’alaikum!” Suaranya terdengar tegas. Tiba-tiba saya merasa tidak siap berbitrik dengannya. ”Halo! Halo!” Saya mematikan Hp-ku. Looser! Gerutuku dalam hati. Saya benar-benar tidak berdaya. ”Bram, waktunya tinggal hari ini.” Mama menatapku serius ketika saya berpamitan tadi pagi. ”Ya, Ma. Saya usahakan.” Saya menjawab ragu. Jadi, hari ini, mau tidak mau saya harus bitrik dengan Laras. Saya berangkat ke kampus dengan gugup. Sampai di kampus, saya mencari-cari Laras. Sosoknya tidak kelihatan sampai kuliah dimulai. Lebih kurang lima belas menit setelah kuliah dimulai, Laras muncul. Ia menuju kearahku dan mengambil tempat di sebelahku, satu-satunya tempat kosong yang tersisa siang itu. Laras duduk dengan tenang di sebelahku dan segera mengikuti kuliah. Saya semakin gelisah. Tubuhku mulai berkeringat. Kuliah usai. Saya menunggu kesempatan untuk bitrik dengannya. Saya sengaja memperlambat berkemas sambil menunggunya. Satu persatu kawan kuliah meninggalkan ruangan. Akhirnya, setelah ruangan cukup sepi, saya memberanikan diri untuk bitrik dengannya. ”Laras! Boleh saya bitrik?” Laras menghentikan kesibukannya membereskan buku-buku dan beberapa makalah yang berserakan. “Ya.” Ia melanjutkan kesibukannya tanpa menatapku sama sekali. Tanganku gemetar. Suarsaya tersekat di tenggorokan. ”Ada yang mampu saya bantu?” Laras akhirnya melihat ke arahku. Ia mulai kelihatan tidak sabar dengan sikapku. Ia telah berakhir membereskan buku-bukunya. Saya masih tidak mampu bitrik. Keringat dhendak semakin membasahi tubuhku. Ya Allah, saya benar-benar grogi. ”Bram!” suara Laras meninggi. Saya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sejenak. Yudi, satu-satunya kawan yang masih berada di ruang kuliah menoleh ke arah kami. “La..ras…” Suarsaya tersendat. Laras menatapku bingung. “Ehm…would you…ehm…marry me?” saya tergagap. Akhirnya, keluar juga perkataan itu dari mulutku. Laras menatapku heran. Ia menunduk, berpikir sejenak. Saya menunggu. Rasanya seperti menunggu sebuah vonis. ”Kupikir, itu bukan ide yang baik.” Katanya setelah beberapa menit terdiam. ”Saya duluan, Bram. Assalamu’alaikum…” Saya terpana. Saya masih juga terpana ketika tiba-tiba Yudi menepuk pundakku. “Apa tidak ada trik yang lebih romantis, Bung?” Yudi tersenyum. Saya salah tingkah. Begitulah, proses perjodohanku terpaksa kandas di tengah jalan. Saya tidak patah hati. Tentu saja karena saya memang tidak pernah jatuh cinta pada Laras. Tetapi kusayai, saya cukup terpukul dengan kenyataan ini. Ternyata, saya tidak cukup pandai membaca isyarat Allah. Atau, carsaya yang tidak baik? Melamar di ruang kuliah tanpa prolog seperti itu memang naif sekali. Sore itu saya pulang dengan lemas. Mama duduk di teras, sedang asyik dengan koran sore dan secangkir teh hangat. Setelah mencium tangan Mama, saya menghempaskan tubuh di kursi. Mungkin Mama mampu menangkap kegetiranku. Mama mengusap rambutku. Saya bersyukur Mama tidak membuka pembitrikan mengenai perjodohanku. Saya tidak siap. Sepanjang sore itu saya mencoba menenangkan diri. Saya mencoba bersikap realistis menghadapi kenyataan ini. Saya percaya, Allah akan memberikan seorang pendamping untukku. Pikiranku masih tidak menentu ketika saya bangun tadi pagi.
Saya sholat istikharah lagi tadi malam. Tapi kali ini, saya tidak memperoleh isyarat apa-apa. Akhirnya, kuputuskan untuk bitrik dengan Mama. Toh, Nita gadis yang baik juga. Saya mendahului bitrik sebelum Mama bertanya tentang keputusanku. ”Ma…” ”Ya? Mengapa, Bram?” ”Saya…” Saya terdiam sejenak. Saya baru akan melanjutkan ucapanku ketika sebuah pesan masuk. Saya meraih HP yang tergeletak di meja dengan enggan. Laras??? Apa lagi yang akan dikatakannya sekarang? Berdebar saya membuka pesannya. Setelah saya pikirkan lagi, ide kamu tidak terlalu buruk. Tawarannya masih berlsaya? Saya terpana. Hidup memang penuh kejutan.
0Awesome Comments!